Sabtu, 31 Januari 2015

Kaya, kata siapa ?



Suatu hari, ketika aku sedang asyik menggulung gulung ke bawah (scroll down maksudnya, bukan badanku yang gulung gulung ke bawah) timeline twitter, aku menemukan seorang selebtiwit sedang ngetweet yang intinya begini : Dia sedang membicarakan orang lain yang menurut dia kaya karena mampu membeli jam jam mewah yang dia idam idamkan (Oh jangan tanya berapa harga jam yang dia maksud, yang jelas tu harga jam jelas melampaui biaya pendidikan yang aku keluarin dari TK sampe lulus kuliah. By the way, jam semahal itu emang bedanya apa sih sama jam biasa ? Toh kalo pake jam yang mahal banget itu, satu hari tetep 24 jam, sejam tetep 60 menit kan ?. Oke mulai melenceng sodara sodara, mari kita segera beri tanda kurung tutup saat ini juga). 

Nah pokoknya gitu deh, haha, jadi bingung kan sampai mana tadi ceritanya.

Oiya, jadi si selebtwit itu menganggap kalau dia hanyalah kalangan menengah yang hanya mampu beli jam yang harganya yah kisaran puluhan juta lah.

GILA LUUU, KAYAK GITU NGANGGEP DIRI SEBAGAI KELAS MENENGAH ????

Pertanyaan itulah yang muncul di pikiran. Helloooow (ah elah, kenapa jadi kayak sinetron abg gini kata katanya), itu mah udah menandakan kalo duitmu sudah berlebih, dan menurutku bukan kalangan menengah lagi itu namanya.

Seperti biasa, bagai kerasukan pikirannya orang dari berbagai latar belakang, aku mendadak berpikir. Ukuran kelas menengah, kelas atas, kelas bawah (dari segi ekonomi ya) diukur berdasarkan apa sih.

Seorang milyarder yang punya aset dimana mana, punya mobil sekodi (lah mobil apa kain) yang barangkali aja sendok makannya dari emas mungkin merasa dirinya belum kaya, yang kaya itu adalah seorang trilyuner (lah main asal sebut aja, ya maksudnya yang punya uang sampe trilyunan rupiah). 

Seorang jutawan yang sudah punya rumah gedongan, yang punya perusahaan sendiri, punya mobil selusin, mungkin merasa belum kaya, dan yang dianggap kaya adalah si milyarder tadi.

Seorang pejabat yang sudah punya rumah bagus, punya jabatan tinggi, punya mobil setengah lusin, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang kaya itu ya si jutawan tadi.

Seorang karyawan yang punya rumah, punya mobil gaji sebulan hampir dua dijit, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang kaya ya si pejabat tadi.

Seorang pengusaha kecil-kecilan, yang masih nyicil rumah, yang cuma punya motor, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang kaya ya si karyawan tadi.

Seorang guru SD, yang rumah aja masih ngontrak, motor masih nyicil, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang sudah kaya ya pengusaha tadi.

Seorang buruh pabrik yang tinggal di kost-kostan, belum punya kendaraan pribadi, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang kaya ya guru SD tadi.

Seorang pemulung yang tinggal di rumah gubuk, uang cukup buat makan sehari hari aja, mungkin masih ngerasa kalo dia belum kaya, yang kaya ya buruh pabrik tadi.

Terus begitu sampai ke orang yang bener-bener nggak punya apa-apa.
Lalu kalau begitu, ukuran kaya atau tidaknya seseorang tidak bisa disamakan satu sama lain. Kita akan selalu merasa kekurangan apabila kita hanya melihat ke atas, tidak melihat ke bawah. Melihat ke atas untuk memotivasi, dan melihat ke bawah untuk mensyukuri. Alangkah baiknya melakukannya dengan seimbang, melihat ke atas dengan porsi yang sama dengan melihat ke bawah, karena memang sejatinya, sesuatu yang berlebihan memang tidak baik bukan ? 

Dan lagi, memang seharusnya kekayaan tidak hanya dilihat dari segi materiil, karena kita tidak akan pernah merasa kecukupan apabila hanya melihat aspek materi saja.