Kamis, 30 September 2010

Hidup sulit bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada kita

Oke mungkin kalimat di atas terdengar uda basi banget. Tapi apakah semua orang udah bener bener menganggap kalimat itu dengan sepenuh hati?

Aku rasa nggak.

Pernah gak sih kita merasa bosan sama hidup kita gara gara hidup kita gak seenak orang orang di sekitar kita,

Gara gara kita selalu tertimpa masalah yang bertubi tubi.

Rasanya uda males idup aja.

Kita berpikir bahwa Tuhan gak sayang sama kita, gak adil.

Kenapa kita diberi hidup yang susah sementara orang lain diberi hidup yang nikmat.

Diberi kelimpahan harta, kecantikan atau ketampanan, keluarga yang bahagia, keberuntungan, kecerdasan, dan lain lain.

Sungguh. Sebenarnya, orang orang yang diberi masalah dan cobaan oleh Tuhan itu merupakan orang orang kepercayaan Tuhan.

Kita dianggap sebagai insan yang kuat, yang tabah, yang dapat diandalkan oleh Tuhan.

Tau kan rasanya menjadi seorang ketua kelas, ketua osis, ketua BEM, bupati, gubernur, bahkan presiden sekalipun ?

Seseorang dipilih untuk menduduki jabatan penting tersebut karena dianggap tahan banting dan pantang putus asa.

Mana ada seorang presiden yang tiap kali mendapati masalah dalam negara nya menangis ? kecuali kalau sudah terlalu parah masalahnya, mungkin saja itu bisa terjadi.

Tapi bayangin deh, kalau seorang presiden menangis tiap kali mendapat masalah di negaranya, bagaimana nasib rakyatnya ?

Dan perumpamaan itulah yang aku gunakan untuk mengibaratkan kedudukan orang orang yang ditimpa masalah berat oleh Tuhan.

Ngerti kan maksud dari perumpamaan itu ?

Mungkin terdengar gila ya, tapi, cobalah untuk tersenyum setiap kali kita mendapat masalah. Sadari bahwa dengan Tuhan menimpakan kita suatu masalah, berarti Ia masih percaya akan kita dan yakin akan kemampuan kita. Kita bernilai lebih di mata Nya.

Suatu saat nanti kita pasti akan pension kok dari masalah masalah itu, yaitu ketika kita meninggal nanti.

Dan kita pasti juga bakal dapet reward dari Tuhan jikalau kita berhasil mengatasi masalah masalah tersebut dengan baik.

Dan yakinlah, reward dari Tuhan pasti jauh, jauh lebih baik daripada reward yang kita terima di dunia ini.

Jadi sekarang, setiap kita mendapat masalah dari Yang di Atas, ingatlah perumpamaan itu tadi, ingat akan kepercayaan Tuhan kepada kita.

Berusahalah untuk menyelesaikan masalah tersebut, jangan lari dari masalah tersebut. karena pada akhirnya, aka nada hadiah special dari Tuhan bagi kita yang sanggup mengatasi masalah tersebut.

=)

God hears me… god doesn’t ignores me.

Aku gak pernah tau sebelumnya betapa malam ini akan menjadi sebuah malam yang istimewa bagi aku.

Bukan. Bukan malam penuh hadiah yang aku maksud. Bukan pula malam penuh keceriaan.

Bukan pula malam dimana dompetku terasa memenuhi kantong celanaku.

Semuanya datang secara tak terduga. Unexpected.

15 September 2010 awalnya menjadi hari yang biasa biasa saja.

Pagi datang ke kampus, telat datang ke kelas pada saat kuliah, dan pulang dengan tampang letih, lesu, dan juga lemas.

dan sampai kos bukannya langsung mandi, tapi tetap seperti biasa bermalas malasan terlebih dahulu dan menunda nunda waktu sholat.

Dan bagai peribahasa panas setahun dihapus dengan hujan sehari, kejadian setelah sholat maghrib menghapus semua kejadian-kejadian “biasa” pada hari ini.

Namun sebelum lanjut menceritakan kejadian di malam ini, aku ingin menceritakan terlebih dahulu apa yang aku alami kemarin. Jujur, 2 hari ini, aku sedang dalam masa perbaikan jiwa. Entah kenapa, secara misterius-atau mungkin ini yang disebut hidayah Tuhan-di saat aku sedang meratapi kesepian yang melanda diri setibanya aku dari perjalanan panjang dari kampung halaman menuju Surabaya, tiba tiba di tengah deru tangisku, aku tersenyum.

Tersenyum karena sekelebat pikiran yang melintas di kepala.

Sebuah pikiran untuk menjadi anak yang lebih solehah, yang lebih sering menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Nya.

saat-saat kesepian dan jauh dari orangtua tersebutlah yang menyebabkan pikiran tersebut muncul.

Kembali jauh dari orangtua setelah selama seminggu lebih menghabiskan waktu bersama membuat aku menjadi merasa kehilangan.

Aku merasa aku belum bisa memberikan apa-apa kepada kedua orangtuaku. Selama ini yang bisa aku lakukan hanyalah menguras isi dompet mereka.

Dan aku sangat sangat ingin membahagiakan orangtuaku.

Dan aku tau, cara termudah yang dapat aku lakukan untuk membahagiakan kedua orangtuaku adalah dengan menjadi anak sholehah seperti yang mereka inginkan sehingga berniatlah aku untuk rajin sholat lima waktu dan juga tidak lupa untuk mengaji seperti yang mereka selalu ingatkan kepadaku selama ini.

Kembali lagi pada kejadian malam ini.

Sehabis sholat maghrib, seperti biasa aku menyempatkan diri untuk berdoa.

Aku gak akan pernah menyangka bahwa sebuah doa yang aku ucapkan akan menjadi titik awal dari kejadian ini.

Doa demi doa aku ucapkan, dan pada doa yang kesekian (aku sampai lupa saking banyaknya doa yang aku panjatkan) aku merasa bahwa Tuhan selama ini selalu mendengarkan setiap doa yang aku panjatkan.

Aku teringat dulu sewaktu sma, aku pernah berdoa sepanjang waktu meminta untuk diberi petunjuk harus melanjutkan ke mana ketika kuliah nanti. Saat itu aku benar benar dilanda kebingungan sehingga yang dapat aku lakukan selain meratapi nasib hanyalah berdoa kepada Tuhan. pada waktu itu aku sama sekali gak menyangka bahwa dalam 3 bulan berikutnya aku akan mencari cari info tentang fakultas yang aku tuju.

Mungkin selama ini aku terlalu asyik berdoa, terlalu asyik meminta, sampai sampai tidak sadar bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doaku.

Terlalu asyik mengeluh dan menyalahkan Tuhan terhadap segala sesuatu yang tidak dapat kita raih.

Dan sekarang, Alhamdulillah, aku disadarkan oleh-Nya.

Betapa bersyukurnya aku ketika Ia masih menegurku, berarti, Ia masih sayang terhadapku dan tidak mau aku terlalu jauh dari-Nya.

Semoga, perasaan ini akan terus ada dalam diriku sampai ajal menjelang.

=)

“Ya allah, hamba berterimakasih atas kasih sayang yang telah engkau berikan kepada hambaMu ini Ya Allah, ijinkanlah hamba untuk membalas kasih sayangMu dengan selalu ingat akan kewajibanku sebagai hambaMu Ya Allah, Amin.”

Minggu, 19 September 2010

betapa susahnya menjai orang yang mudah iri

Jujur. Aku itu orangnya mudah iri terhadap keberhasilan orang lain.

Ditambah dengan sifatku yang selalu ingin menjadi orang yang serba tahu dan juga serba bisa menyebabkan aku semakin iri ketika ada orang lain yang berhasil mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui dan juga ketika ada orang lain yang melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan atau melakukan sesuatu yang lebih hebat daripada yang aku lakukan .

Dari kecil aku memang udah terjangkit virus itu.

Dan sekarang , ketika aku udah dewasa, aku dibuat stres sama penyakit itu.

Dan lebih buruknya lagi, aku tidak bisa menanggapi ‘penyakit’ ku itu dengan pikiran yang positif.

Sering sekali aku menjelek jelekan orang yang aku ‘iri’-in itu dalam pikiranku sendiri.

Dan menganggap bahwa aku masih lebih hebat daripada dia.

Bahkan setahun belakangan ini, aku sering merendahkan kemampuan orang orang terkenal.

Kadang aku sering menganggap aku lebih bisa dari mereka.

Bukan keinginanku untuk menjadi seperti ini. Rasanya sungguh sungguh tidak mengenakkan !

Bayangkan jika kita setiap hari harus merasa dengki terhadap orang orang yang sukses di sekitar kita. Ugh. I guarantee you will hate that feeling !

Pengen rasanya tersenyum bahagia ketika kita melihat orang yang kita kenal menjadi sukses.

Pengen sekali.

Mungkin banyak orang yang tidak suka terhadap sifatku ini.

Tapi yah begini, andai aja tuhan punya twitter, udah aku mention trus buat gantiin sifar iri ku ini.

Mungkin banyak yah quote quote positif yang berhubungan dengan permasalahanku ini.

Tapi suer deh, kalo hanya kata kata dan hanya sesekali diucapkan, itu sangat sangat tidak cukup.

Kalau kalian merasakan yang sebenarnya, sungguh sungguh susah.

Oke , ketika membaca quote nya itu kita langsung nyadar

Tapi tunggu aja lagi sehari ketika kita udah lupa sama quote nya itu, ilang deh semua ‘kesadaran’ kita.

Sungguh, benar benar dibutuhkan tindakan yang kontinu untuk mengatasi masalah ini.

Dan semuanya bakal berakhir baik bagiku, asalkan aku benar benar ‘bertindak’. Gak setengah setengah.

Dan sekarang, aku masih dalam tahap awal penyembuhan.

Aku tahu bakal butuh waktu yang lama untuk menghilangkan sifat ini.

Mungkin gak bisa hilang seutuhnya, karena ini adalah sifat bawaan.

Mungkin yang bisa aku lakukan adalah berusaha meminimalisir sifat ku ini dan mencari ‘obat yang manjur’ jika ‘penyakit’ iri ku kambuh.

Wish me luck friends.

=)


overprotective = terlalu sayang ?

Finally ! blog ku keurus jugaa. hehe
setelah sekian lama mati suri, ni blog akhirnya idup lagi. wkwkwk
oke, kali ini aku mau ngomongin masalah sikap overprotective.
dulu aku selalu kesel kalo liat ada orang yang overprotective .
Selalu bilang begini “kenapa sih dilarang larang ini itu! Padahal kan gak ada apa apa.!”
Entah kenapa, sekarang aku punya pandangan yang berbeda dari yang dulu.
Rasanya aku sedikit mengerti mengapa beberapa orang bersikap overprotective.
Kadang aku kasihan kepada orang orang yang overprotective itu. Mereka sering dicerca dan diumpat akibat sikap mereka itu.
Padahal mereka bersikap begitu karena mereka sayang.
Hanya saja mereka mengungkapkan rasa sayangnya itu berbeda dengan sebagian orang yang nonoverprotective.
Okelah, memang terlalu berlebihan dan terlalu mengekang seseorang itu enggak baik.
Tapi mereka berbuat seperti itu karena mereka terlalu sayang, sehingga mereka terlalu khawatir.
Ibaratkan aja deh kalo misalnya kita punya barang kesayangan.
Entah itu boneka, pajangan, buku, atau bahkan motor dan mobil.
Kalo kita bener bener sayang sama barang kesayangan kita itu, kita pasti akan merawatnya tiap hari kan ?
Dan kita juga gak sembarangan ngasi orang untuk megang atau memakai barang kesayangan itu kan ?
Kita pasti hati hati banget jika memegang atau memakai barang kesayangan kita tersebut.
Kita gak mau barang kesayangan kita tergores atau rusak karena orang lain kan ?
Nah. Itulah yang dilakukan sama orang yang overprotective itu.
Mereka sebenarnya sayang . sayang banget malah.
Tapi ya itu, saking sayangnya mereka , mereka jadi tidak menghiraukan perasaan orang yang terlalu mereka kekang tersebut.
Manusia bukanlah benda mati.
Jadi , kita tidak bisa seenaknya mengatur kehendak orang lain. Karena mereka mempunyai pikiran sendiri dan kehendak sendiri untuk mengatur hidup mereka.
Hal inilah yang kurang dipahami para “overprotecter” tersebut.
Mereka butuh diingatkan.
Jika kita bertemu atau kenal dengan para “overprotecter” itu, jangan selalu berpikir negatif.
Berpikir positif sedikit terhadap mereka.
Pikirlah bahwa mereka begitu karena mereka terlalu sayang sama kita.
=)