Aku gak pernah tau sebelumnya betapa malam ini akan menjadi sebuah malam yang istimewa bagi aku.
Bukan. Bukan malam penuh hadiah yang aku maksud. Bukan pula malam penuh keceriaan.
Bukan pula malam dimana dompetku terasa memenuhi kantong celanaku.
Semuanya datang secara tak terduga. Unexpected.
15 September 2010 awalnya menjadi hari yang biasa biasa saja.
Pagi datang ke kampus, telat datang ke kelas pada saat kuliah, dan pulang dengan tampang letih, lesu, dan juga lemas.
dan sampai kos bukannya langsung mandi, tapi tetap seperti biasa bermalas malasan terlebih dahulu dan menunda nunda waktu sholat.
Dan bagai peribahasa panas setahun dihapus dengan hujan sehari, kejadian setelah sholat maghrib menghapus semua kejadian-kejadian “biasa” pada hari ini.
Namun sebelum lanjut menceritakan kejadian di malam ini, aku ingin menceritakan terlebih dahulu apa yang aku alami kemarin. Jujur, 2 hari ini, aku sedang dalam masa perbaikan jiwa. Entah kenapa, secara misterius-atau mungkin ini yang disebut hidayah Tuhan-di saat aku sedang meratapi kesepian yang melanda diri setibanya aku dari perjalanan panjang dari kampung halaman menuju Surabaya, tiba tiba di tengah deru tangisku, aku tersenyum.
Tersenyum karena sekelebat pikiran yang melintas di kepala.
Sebuah pikiran untuk menjadi anak yang lebih solehah, yang lebih sering menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Nya.
saat-saat kesepian dan jauh dari orangtua tersebutlah yang menyebabkan pikiran tersebut muncul.
Kembali jauh dari orangtua setelah selama seminggu lebih menghabiskan waktu bersama membuat aku menjadi merasa kehilangan.
Aku merasa aku belum bisa memberikan apa-apa kepada kedua orangtuaku. Selama ini yang bisa aku lakukan hanyalah menguras isi dompet mereka.
Dan aku sangat sangat ingin membahagiakan orangtuaku.
Dan aku tau, cara termudah yang dapat aku lakukan untuk membahagiakan kedua orangtuaku adalah dengan menjadi anak sholehah seperti yang mereka inginkan sehingga berniatlah aku untuk rajin sholat lima waktu dan juga tidak lupa untuk mengaji seperti yang mereka selalu ingatkan kepadaku selama ini.
Kembali lagi pada kejadian malam ini.
Sehabis sholat maghrib, seperti biasa aku menyempatkan diri untuk berdoa.
Aku gak akan pernah menyangka bahwa sebuah doa yang aku ucapkan akan menjadi titik awal dari kejadian ini.
Doa demi doa aku ucapkan, dan pada doa yang kesekian (aku sampai lupa saking banyaknya doa yang aku panjatkan) aku merasa bahwa Tuhan selama ini selalu mendengarkan setiap doa yang aku panjatkan.
Aku teringat dulu sewaktu sma, aku pernah berdoa sepanjang waktu meminta untuk diberi petunjuk harus melanjutkan ke mana ketika kuliah nanti. Saat itu aku benar benar dilanda kebingungan sehingga yang dapat aku lakukan selain meratapi nasib hanyalah berdoa kepada Tuhan. pada waktu itu aku sama sekali gak menyangka bahwa dalam 3 bulan berikutnya aku akan mencari cari info tentang fakultas yang aku tuju.
Mungkin selama ini aku terlalu asyik berdoa, terlalu asyik meminta, sampai sampai tidak sadar bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doaku.
Terlalu asyik mengeluh dan menyalahkan Tuhan terhadap segala sesuatu yang tidak dapat kita raih.
Dan sekarang, Alhamdulillah, aku disadarkan oleh-Nya.
Betapa bersyukurnya aku ketika Ia masih menegurku, berarti, Ia masih sayang terhadapku dan tidak mau aku terlalu jauh dari-Nya.
Semoga, perasaan ini akan terus ada dalam diriku sampai ajal menjelang.
=)
“Ya allah, hamba berterimakasih atas kasih sayang yang telah engkau berikan kepada hambaMu ini Ya Allah, ijinkanlah hamba untuk membalas kasih sayangMu dengan selalu ingat akan kewajibanku sebagai hambaMu Ya Allah, Amin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar